Vania Febriyantie: Ubah Sepetak Lahan Jadi Kebun Komunal Yang Edukasional

Sawah-sawah hijau itu menunggu mati. Nisan-nisan bertuliskan “TANAH DIJUAL” telah dipatok rapi. Kawasan Bandung Timur yang semestinya menjadi lumbung beras bagi segenap warga Pasundan harus rela beralih rupa menjadi ikon perbelanjaan masa kini, Mal Summarecon Bandung.

Sementara pandemi COVID-19 memotong jalur logistik, hal-hal yang seringkali dianggap remeh seperti bahan makanan menjadi komoditas terbatas. Alhasil, kaum berpunya sibuk memborong, sementara kaum papa hanya bisa terbengong. Pada akhirnya, kebiasaan mengimpor bahan pangan dari luar daerah menjadi hal yang paling sulit diandalkan. Tak ubahnya ibarat bom waktu, yang kapanpun bisa meletuskan kerentanan pangan bagi umat manusia.

Dialah Vania Febriyantie, pemudi setempat yang ingin meralat nasib kotanya. Di tengah masa penguncian wabah (lockdown), ia menginisasi gerakan pertanian urban yang dinamai Seni Tani.

“Banyak yang belum tau kalau Bandung hanya mampu menyediakan 3,53 persen sumber pangan bagi warganya. Itupun 3 persennya beras. Miris banget,” ungkap Vania.

Dibantu dengan empat kawannya yang tergabung dalam komunitas 1000Kebun, Vania memulai Seni Tani dari dekat kediamannya di kawasan Arcamanik, Bandung. Ia menyulap lahan tidur di areal tersebut untuk menjadi kebun pangan.

“Awalnya, aku lihat gundukan rumput di lahan kosong di dekat rumahku. Pas dibongkar, ternyata isinya bukan tanah, tapi justru sampah kasur, karpet, beling, dan sampah rumah tangga lainnya,” tutur Vania.

Bak gayung bersambut, hajat baik Vania direstui oleh RT dan lurah setempat terkait izin pengelolaan lahan tidur. Lahan seluas 144 m2 yang berada di bawah saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) itu lantas diolah Vania bersama kawan-kawannya sejak November 2020 silam.

Seni Tani, Seninya Pertanian Alami

Menurut Vania, kata ‘seni’ yang tersemat pada Seni Tani dipilih karena bertani sebetulnya punya seni atau caranya masing-masing asalkan tetap selaras dengan alam.

“Bunga matahari adalah salah satu tanaman yang awal kami tanam bersama para volunteer. Kami ingin memperbanyak populasi lebah yang kian punah di perkotaan sekaligus menyediakan ruang hijau bagi warga Bandung untuk sekedar berswafoto,” ungkap Vania sembari mengulas senyum.

Pernah mengecap mandat sebagai koordinator di komunitas 1000Kebun, Vania menyadari betapa pentingnya bertani secara regeneratif dan menghargai kebijaksanaan alam.

“Kami percaya tanah yang sehat itu adalah tanah yang memiliki struktur dan ekosistem yang seimbang (kaya mikroorganisme),” jelas perempuan alumni Biologi UPI ini.

Dalam praktiknya, Vania dan tim menggunakan raised bed berisikan sampah halaman dan cacahan gedebog pisang untuk mengakali lahan berangkal yang sulit dicangkul.

Sampah halaman (sampah organik) warga ditampung dalam Banana Circle yakni cekungan tanah yang dikelilingi pohon pisang untuk memudahkan penguraian.

Sementara, mulsa alaminya mereka peroleh dari limbah baglog jamur petani di Lembang dan kotoran hewan dari DKPP Bandung untuk mengompos.

Kompos lasagna berperan besar dalam menutrisi tanah Seni Tani. Ia terbuat dari tiga komponen yang meliputi: bahan cokelatan (daun kering, kertas, kardus), bahan hijauan (dedaunan, sampah organik), dan bahan pengikat nitrogen seperti kotoran hewan dan ampas kopi.

Keberadaan Seni Tani yang nyelip di antara perumahan warga membuat Vania memutar otak. Mencari donor ampas kopi dari kedai-kedai kopi lokal demi meredam bau tak sedap yang ditimbulkan.

“Sampai sekarang sudah lebih dari 10 kedai kopi Bandung yang menyumbangkan ampas kopinya untuk kami,” jelas Vania.

Tani Sauyunan

Terinspirasi praktik serupa di Jepang, Vania memasangkan Seni Tani dengan mekanisme Community Supported Agriculture (CSA) atau yang ia istilahkan sebagai Tani Sauyunan.

“Sauyunan artinya kebersamaan. Kebersamaan antara petani dan anggota CSA,” ucap Vania.

Pendekatan CSA atau Tani Sauyunan memungkinkan konsumen untuk berlangganan sayur di awal musim tanam. Sehingga, petani mendapat kepastian pendapatan melalui harga yang adil. Di sisi lain, konsumen memperoleh pangan yang sehat, dekat, dan berkualitas.

Sekali panen, sebidang tanah bisa menghasilkan hingga 3 kg sayuran. Terdapat enam kategori sayuran yang tersedia di Seni Tani yakni: sayuran daun, sayuran buah, sayuran umbi, sayuran jamur, sayuran kacang-kacangan, dan sayuran bumbu.

  • Sayur daun: pakcoy, selada cos (romaine), selada keriting, selada merah, kailan, bayam, kangkung, caisim, daun pepaya, naibai, pagoda, siomak, endive, dan kale.
  • Sayur buah: timun, labu siam, labu acar, cabai kering hijau, leunca, terong, dan tomat.
  • Sayuran umbi: wortel, bit merah, lobak, ubi, singkong, dan lainnya.
  • Sayuran jamur: jamur tiram dan jamur kuping.
  • Sayuran kacang-kacangan: buncis dan kacang panjang.
  • Sayuran bumbu: daun jeruk angka 8, daun pandan, daun salam, taragan, rosemari, oregano, dan timi.

Setiap paket yang dipesan oleh anggota CSA berisi 4-8 jenis varian sayur dengan kisaran harga Rp 100-250 ribu tergantung paket yang dipilih. Ini sudah termasuk ugly food bila anggota CSA berkenan menerima. Paket ini akan disalurkan pada hari Kamis setiap minggunya.

“Paketnya tuh macem-macem. Ada yang buat perorangan, keluarga atau tematik. Ada juga paket Reuwas yang sayurnya kita pilihin.  Jadi waktu pas dateng itu kaget. Cocok buat orang yang suka experience,” papar Vania kepada KBR Prime.

Uniknya, paket-paket sayur ini dikemas dengan tas daur ulang berbahan karung bekas tepung terigu. Ini salah satu upaya Seni Tani untuk memperpanjang masa pakai karung plastik lewat tangan-tangan terampil ibu-ibu pedagang pasar di daerah Minggir, Yogyakarta.

Kebun Komunal yang Edukasional

“Salah satu mimpi kami adalah menciptakan ruang untuk warga sambil berkebun, bersenda gurau, dan botram menikmati hasil kebun bersama-sama,” ujar Vania.

Tani Berdaya adalah kegiatan berkebun rutin yang dilangsungkan di kebun Seni Tani. Namun, khusus pada hari Sabtu, Seni Tani mengundang para anggota CSA, warga sekitar atau siapapun yang tertarik− untuk bisa merasakan sensasi berkebun bersama melalui kegiatan SABUN atau Sabtu Berkebun.

Tak jarang, program SABUN ini berkelindan dengan aktivitas Daur Tani yakni pengolahan sampah organik terpadu yang dipandu langsung oleh Galih Raditya, salah satu penggerak Seni Tani sekaligus suami Vania.

Beberapa program regenerasi petani juga dibidani oleh Seni Tani. Bagi para remaja dan dewasa, ada Tani Bestari yang mengajarkan tata cara menjadi petani urban, dari mulai teknik persemaian hingga praktik langsung di kebun Seni Tani.  

Bagi anak-anak, ada Berkebun Gembira yang mengenalkan profesi petani melalui aktivitas menanam sayur, menggambar dengan bayangan bunga matahari, hingga membuat stempel dari tanaman yang mereka petik sendiri. Seni Tani bahkan sengaja menciptakan sepasang maskot tani, yakni Sani dan Sina untuk menghibur anak-anak kala berkebun.

“Sani itu sosok petani laki-laki bercaping kuning yang terinspirasi dari bunga matahari. Sedangkan, Sina si petani perempuan bercaping merah jambu yang terinspirasi dari bunga Zinnia,” jelas Vania.

Tanpa gema yang kuat di ruang maya, maka kekuatan inovasi Seni Tani hanya akan bertiup sepoi-sepoi ke telinga masyarakat awam. Itulah mengapa, Seni Tani secara berkala mengunggah aktivitas hijau mereka di laman blog dan Instagram. Bahkan, mereka rutin menghelat bincang interaktif seputar pertanian organik dengan tajuk SUKUN (Diskusi di Sudut Kebun).

Namun, siapa sangka bahwa seluruh aksi Vania ini justru menyedot atensi berbagai pihak untuk akhirnya berkolaborasi dengan Seni Tani. Salah duanya adalah diskusi bersama profesor asal Norwegia dan pemerintah Timor Leste terkait sistem CSA, serta pembangunan perpustakaan mini gratis “Kotak Biblio” oleh Pustakalana.

Ganjaran Bagi Si Pelopor Tani Urban

Usaha Vania dan kawan-kawannya membuahkan hasil. Sekarang, Seni Tani telah memiliki 20-an anggota tetap, puluhan volunteer dari berbagai daerah di Indonesia, dan lebih dari 1000 jejaring anggota lintas negara di Whatsapp Group.

Apalagi, saat ini Seni Tani telah membangkitkan lahan tidur seluas lebih dari satu hektar di banyak titik di Jawa Barat.

Sepanjang 2022, kebun ini mampu memanen 388,62 kg sayur yang disalurkan kepada 74 anggota Tani Sauyunan. Pun, mendistribusikan 1.481,65 kg sayur-mayur dari kebun mitra.

Seni Tani juga berhasil menghimpun 5.936 kg sampah halaman dan 960 kg ampas kopi yang diolahnya menjadi 2.968 kg pupuk kompos.

Sumbangsih Vania dan kawan-kawannya membawa Seni Tani meraih apresiasi SATU Indonesia Awards 2021 untuk kategori Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19.

“Kita awalnya sering dicibir proyek gak jelas. Tapi, saat mendapatkan penghargaan ASTRA, kita semacam mendapat energi luar biasa untuk berjuang kembali,” ungkap dara yang baru saja menyelesaikan short course Sistem Pertanian Berkelanjutan di Universitas Adelaide dan Sydney ini.

Menurut Vania, berkebun organik itu bukan sekedar menanam tanpa pestisida dan pupuk kimia, maupun mengantongi sertifikat organik. Maknanya lebih dari itu.  Siapa yang menanam? Apakah mereka cukup adil untuk lingkungan? Apakah mereka sejahtera dari segi sosial dan ekonomi?

“Menciptakan sistem fair-trade itu tantanganya luar biasa, tetapi tidak ada alasan untuk berhenti,” tutur Vania semangat.

Kini, Seni Tani bukan hanya menjadi tempat bernaung para sayur, melainkan juga kebun yang produktif dan kolaboratif.

Namun, Vania bukan anak muda Indonesia pertama yang berprestasi dan menginspirasi serta jelas tidak akan jadi yang terakhir. Berikutnya, bisa saja kamu.

**